Aku Benci..! Hati Kecilku Masih Tetap Berharap Padamu

Satukliknews – Sudah berulang kali kukatakan pada diriku sendiri berkali-kali bahwa kau telah menyakitiku. Sudah kubisikkan pada diriku sendiri berkali-kali bahwa kau yang telah memberikan luka padaku. Aku pun tahu bahwa aku tidak mungkin bahagia jika bersamamu karena kau ternyata tidak pernah menganggapku seperti aku menganggapmu. Aku tahu bahwa mungkin aku yang teralalu berekspektasi tinggi terhadapmu, dan tidak demikian kenyataannya. Aku tahu bahwa aku memang harus pergi. Namun, entah mengapa ada sebagian dari diriku yang masih ingin mengelak dari fakta-fakta itu. Ada sebagian dari hatiku yang rela terjerembab pada luka-luka yang kau sebabkan. Ada bagian dari otakku yang masih ingin menikmati rasa sakit yang kau berikan. Rupanya ada bagian dari hatiku yang masih ingin berharap padamu sekalipun sudah tersaji secara gamblang bahwa kau bukan orang yang pantas untukku.DOMINO ONLINE

Aku juga tidak mengerti mengapa aku menjadi seperti ini. Ketika kekecewaanku sudah mencapai puncaknya, namun ternyata kekecewaan itu masih bisa hilang ketika aku tidak sengaja melihat wajah teduhmu. Aku tidak bisa mengatur hati dan pikiranku sendiri. Sekuat apapun kucoba berlari darimu, ada saja bagian hati yang masih ingin memaafkanmu. Ada saja bagian dari diri yang masih ingin mencarimu. Padahal, ketika kau sudah kutemukan, ada bagian hati yang lain yang remuk. Aku seperti sia-sia. Aku yang terus berusaha lepas dari luka, namun juga mengharap luka yang sama setiap harinya. Aku masih ingin menatapmu dari kejauhan, padahal aku tahu bahwa kau selalu menyiksaku dengan kehadiranmu.

BACA JUGA : Jangan lepaskan cewekmu! jika dia punya 4 kriteria ini

Aku memang orang yang plin plan sekali. Sejenak berpikir A, sejenak kemudian berpikir kebalikannya. Sejenak berpikir B, sejenak kemudian berpikir A lagi. Sebentar berpikir untuk mengakhiri semua ini, sebentar kemudian masih ingin menikmati semua ini. Aku tahu bahwa aku telah menyakiti diriku sendiri dengan berpikir tidak teratur seperti itu. Tapi aku pun tidak kuasa untuk memprogram hati dan pikiranku menjadi apa yang seharusnya kujalani. Semuanya berjalan dengan begitu natural tanpa dibuat-buat. Kau dan aku, yang walaupun tidak mungkin akan menjadi satu, masih saja bergelayut indah pada angan-angan sebelum tidur. Lalu, aku harus menyalahkan siapa jika pada akhirnya aku masih terjebak dalam ruang ini?

Namun, bagaimanapun juga aku harus terus berjalan. Aku juga harus berani memutuskan untuk segera pergi dari tempat yang kian lama menjadi kian asing ini. Tapi kehadiranmu yang walaupun sebentar saja, tidak hanya menyakitiku, namun juga menumbuhkan lagi harapan itu. Dan aku benci itu. Aku benci semua ini. Aku benci diriku sendiri. Aku benci ketika hati kecilku ternyata masih tetap berharap padamu setelah apa yang terjadi. Dan mungkin, pada akhirnya aku harus belajar untuk membenci dirimu agar aku bisa segera bebas dari keadaan ini.JUDI DOMINO

Leave a Comment