Cinta Pertama..! Perpisahan Sebagai Bukti Ketulusan

Satukliknews – Jika kalian tidak pernah percaya dan tidak sependapat dengan rangkaian kalimat yang baru saja kalian baca, atau mungkin kalian percaya namun tidak punya jawaban untuk pertanyaan yang tertulis pada akhir kalimat. Cobalah untuk sedikit meluangkan waktu untuk membaca pelan pada coretan kata kali ini.DOMINO ONLINE

Membaca pelan tak akan membuat kalian jatuh pada peringkat ‘si bodoh’. Membaca pelan membantu hati membuka rasa melalui tiap kedipan mata.

Jika kalian sudah mampu mengingat cinta. Coba sebentar kembali ke masa lalu dan temukan kepada siapa cinta pertama kalian berikan.

Beberapa saat sebelum matamu menatap terangnya cahaya, ketika itu juga kau tak pernah lepas. Bahkan dari setiap hela nafasmu tak ada jarak yang menghalangimu dengan Sang Cinta pertamamu. Begitu indah duniamu tanpa beban kala itu. Hatimu sesak akan lembutnya kasih sayang hingga dadamu tak pernah sama sekali merasa seperti terdesak. Tak yang kamu minta, tak ada harapan yang harus kamu tuntut pada Cinta pertamamu. Bukan karena hasratmu tercukupi, tapi itulah cinta sebenarnya. Itulah gambaran surga yang nyata ada dalam setiap perasaan manusia, dimana kamu akan merasa kenyang tanpa harus makan, lega tanpa harus minum, bahkan tetap hidup tanpa harus bernafas. Kamu di puncak bahagia kala itu.

BACA JUGA : Ini alasan yang bahagia pacaran sama anak filsafat !

Hingga suatu saat Cintamu memanggil. Ia meminta perpisahan sebagai bukti ketulusan. Bagi petir menyambar tubuhmu yang tak beraga, hingga seakan kamu terbakar hangus dan menjadi debu. Cintamu tetap teguh dalam pendirian, mau tak mau Cintamu menuntut jarak. Dengan pesan cinta yang telah dititipkan kepadamu, Cintamu, melemparmu jauh. Dan di tempat kosong yang dititipkan kepada dua orang kepercayaan, kamu terdampar.

Perihnya rasa dari semua kehilangan yang hadir di hatimu, membuatmu lupa akan apa yang telah menimpa takdir. Semakin lama kamu semakin lupa, hingga tiba saat dimana untuk pertama kalinya kamu kembali menatap cahaya. Bukan cahaya yang sama, Bukan cahaya yang kau rasa saat masih menyanding Cinta. Cahaya baru yang membutakanmu, cahaya yang menindih ingatanmu , cahaya yang membuatmu lupa cara untuk tertawa, cahaya yang membuatmu menangis untuk pertama kalinya setelah sekian lama terkurung dalam ruang cinta yang hampa.

Salah mengartikan cinta, membuatmu lupa akan cinta pertama

Sekian lama waktu berjalan, tutunan dari dua orang kepercayaan sedikit demi sedikit mengembalikan memorymu tentang Cinta. Mereka memberitahumu apa yang harus kamu perjuangkan untuk dapat kembali menyanding Cinta. Mereka berjuang untuk membantumu kembali menemukan kesejatian Cinta pertamamu. Namu, terkadang terangnya cahaya dengan gemerlapnya yang warna warni tanpa kamu sadari kembali membutakan kedua mata dan hati. Cahaya memberikan ilusi, menciptakan kepalsuan yang hadir dan melangkah bersamaan dengan bayanganmu yang terus berjalan.

Semakin jauh kakimu melangkah. Alih-alih menemukan Cinta, hatimu malah tersesat di belantara rimba penuh dengan satwa liar yang setiap saat datang untuk menerkam. Dan tak salah lagi, cakar dan taring penghuni hutan menjerat kaki dan tanganmu. Lidahnya menjulur melilit otakmu, memutar pandanganmu 180 derajat, dengan iming-iming kebahagian cinta yang sebenarnya palsu. Matamu terpana ilusi rimba, kupingmu tergoda bisikan manja, hingga tak sadar tubuhmu terjerat dalam kolam lumpur hingga setinggi dada.

Lalu, bagaimana selanjutnya ? Entah ! Jangan kamu bertanya padaku. Kita terjebak dalam kolam lumpur yang sama. Hening dan rasakan, siapa sebenarnya Cinta ?JUDI DOMINO

Hanya Sang Cinta yang dapat menemukan jalanmu pulang dan keluar dari pekatnya belantara rimba. Dengan mengingat Cinta, tak akan ada lagi ilusi cahaya yang memalsukan langkahmu untuk menemukan Cinta.

Leave a Comment