Cinta Yang Bersayap

Satukliknews – Sabina ini langsung meninggalkan kamar, perlahan ia berjalan menyelusuri lorong yang berujung kursi mengarah ke taman. Duduklah ia sesampainya di kursi itu, dipandangi sisi kiri hingga sisi kanan taman yang terhampar bunga layaknya taman bunga. Taman dengan beberapa kursi itu juga dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Perlahan ia pejamkan mata, ia menghirup udara sedalam-dalamnya. Udara pagi yang sudah lama tidak ia rasakan seminggu ini karena ia harus dirawat intensif setelah sempat tidak sadarkan diri di kampusnya.DOMINO ONLINE

Hembusan dari semua nafas kembali normal karena terdengar suara seseorang memanggil. Sabina kaget lalu membuka mata ternyata ada laki-laki tampan di hadapannya.

“Permisi nona, apa Anda merasa pusing? Apa yang bisa saya bantu?” tanya laki-laki itu.

“Tidak, terima kasih. Saya baik-baik saja loh,” jawab Sabina dengan gugup.

“Oh syukurlah. Maaf nona, saya Arfan. Bisakah Anda berbagi kursi dengan saya?” ucap Arfan

Kebetulan laki-laki tampan itu sedang berjalan mengitari taman sambil mencari kursi yang kosong lalu langkah kaki nya terhenti ketika melihat Sabina memejamkan matanya. Laki-laki itu mengira Sabina merasa pusing ternyata dugaannya salah.

Karena Arfan takut wanita cantik berhijab di hadapannya berpikir aneh tentangnya. Arfan pun langsung menjelaskan setelah memperkenalkan diri bahwa ia tidak bermaksud jahat. Karena kursi yang lain sudah terisi dan hanya kursi itu yang cukup untuk satu orang lagi maka ia meminta izin untuk duduk. Sabina tidak mempermasalahkannya, ia pun mempersilahkan dan memperkenalkan dirinya.

“Oh ya tentu silahkan duduk. Saya Sabina. Saya terbawa suasana, bersyukur betapa nikmatnya bernafas. Hal yang perlu disyukuri karena tanpa kita memintanya tanpa kita membayarnya kita diberi nikmat yang luar biasa. Tapi kita sering melupakan itu,” jelas Sabina.

Mereka berbincang sejenak, ternyata Arfan sedang menunggu hasil check up sedangkan Sabina menjalani perawatan karena menderita anemia.

Tidak lama laki-laki paruh baya memanggil, “Sabina, ayah sudah mengurus kepulanganmu. Kamu bisa menjalani rawat jalan. Sekarang ayo kita pulang, ibumu pasti sudah menunggu dirumah.”

Sabina memeluk ayahnya yang sangat ia sayangi dan menurutinya, “Iya ayah.”

Dalam hati ia sebenernya belum ingin beranjak dari kursi karena taman itu seperti menahannya pergi. Walau begitu ia tidak seharusnya berlama-lama di sana, ia ingin sehat dan bisa melakukan aktifitas seperti biasa.

Setelah memperkenalkan Ayahnya kepada Arfan lalu Sabina berpamitan, ia pun pergi bersama ayahnya. Karena Sabina masih agak lemas maka ayahnya merangkulnya. Sabina menceritakan laki-laki itu sepanjang jalan. Ia memuji Arfan yang tampan dan sopan.

Keesokan harinya, Sabina memulai lagi kuliahnya setelah seminggu absen. Seperti biasanya, ibu Sabina sudah menyiapkan bekal makanan untuknya karena asupan makanan harus dijaga agar anemianya tidak kambuh. Sebelum berangkat Sabina selalu diperingatkan untuk tidak boleh terlalu lelah. Sabina pun berusaha selalu menuruti ibunya.

Sebulan kemudian, Sabina tidak sadarkan diri di kamarnya. Ibu yang menemukannya langsung membawa Sabina ke rumah sakit. Dokter menyatakan bahwa Sabina menderita anemia akut. Sabina harus dirawat intensif beberapa hari kedepan karena dokter akan melakukan penanganan lebih lanjut. Sabina juga harus melakukan transfusi darah untuk mengembalikan kondisinya.

Memang sebulan ini Sabina mengerjakan skripsi dan itu mengharuskannya untuk mengorbankan waktu tidur dan waktu istirahatnya demi menyelesaikan tugas tepat waktu. Dia mengira fisiknya akan kuat namun tidak seperti yang ia bayangkan. Sehingga ia harus mendapatkan perawatan lagi.

Keesokan harinya, Sabina yang sudah sadar mulai bosan tidur di ranjangnya. Ia pun meminta izin kepada suster untuk keluar sebentar. Akhirnya atas izin dokter, suster membolehkannya keluar kamar. Karena belum pulih benar, Sabina dianjurkan untuk memakai kursi roda.

Suster mengantar Sabina menuju taman. Walau sakit, ia merasa senang berada di taman itu. Sebulan lalu ia pernah di sana dan ia tidak menyangka ia akan kembali lagi. Dari cerita suster, taman itu memang sengaja dibuat untuk pasien yang dirawat di sana, demi untuk mempercepat penyembuhan pasien dan agar mereka tidak merasa seperti berada di rumah sakit.

Dari kejauhan Arfan melihat Sabina yang pucat dan terlihat lemas duduk di kursi roda. Lalu ia mendekati Sabina dengan langkah yang sedikit ragu. Ia takut Sabina lupa padanya karena mereka bertemu sebulan yang lalu dan itu hanya sebentar. Baru jalan beberapa langkah, Sabina ternyata menyadari keberadaan Arfan, ia pun memanggilnya. Lalu Arfan menghampiri Sabina.

Suster yang tidak ingin mengganggu Sabina dan Arfan meninggalkan mereka dan akan kembali beberapa menit lagi untuk mengantar Sabina ke kamarnya. Tapi Sabina menolaknya karena tidak mau merepotkan suster. Arfan yang mendengar itu lalu mengatakan bahwa ia yang akan mengantar Sabina kembali ke kamarnya. Suster pun menyetujuinya.

“Kamu sakit? Wajahmu pucat,” tanya Arfan.

“Aku sudah lebih baik. Kamu juga sakit? Kenapa kamu memakai baju pasien?” Sabina heran.

“Ada masalah dengan pencernaanku dari hasil check up waktu itu jadi aku harus menjalani perawatan tapi semua akan baik-baik saja,” jawab Arfan.

Pertemuan pertama antara Sabina dan Arfan waktu itu membuat Arfan berpikir bahwa ia mau menjalani pengobatan. Karena sudah seharusnya ia mensyukuri nikmatnya bernafas dengan berobat apapun hasilnya nanti.

Setengah jam berlalu, banyak yang mereka bicarakan hingga mereka sedikit mengenal karakter masing-masing. Arfan yang merasa sudah terlalu lama duduk di taman mengantar Sabina kembali ke kamarnya. Sejak saat itu mereka sering bertemu di taman rumah sakit.

Dua hari berlalu setelah pertemuan terakhir, Sabina tidak melihat Arfan lagi. Sabina bingung apa yang terjadi dengan Arfan.

Keesokan harinya, Sabina yang tidak menggunakan lagi kursi roda menjejaki jalan setapak yang berada di taman. Ia ikuti jalan setapak itu sambil menunduk. Namun ketika ia mengangkat kepalanya, ia melihat Arfan ada di ujung jalan setapak itu. Ia pun melanjutkan langkah menuju Arfan.

BACA JUGA : Khasiat bawang putih panggang untuk kesehatan

Kini keadaan berbalik, Arfan duduk di kursi roda karena tak mampu menegakkan badannya. Sabina sedih melihat keadaan Arfan.

Kemarin Sabina sempat mencari tahu keadaan Arfan. Sabina pun mengetahui keadaan Arfan yang sebenarnya, ia mendengar pembicaraan dokter dengan Ibunya Arfan bahwa Arfan menderita kanker usus. Sabina heran kenapa Arfan tidak mau menceritakan kepadanya. Sabina tetap berpikir positif, mungkin Arfan hanya tidak mau memperlihatkan kesakitannya. Sabina yang sudah mengetahuinya tidak mengungkapkan kepada Arfan. Ia lebih memilih diam dan menyemangati Arfan.

“Hai Arfan, Kamu duduk di kursi roda tapi tidak seperti orang sakit. Kamu pasti hanya sedikit lelah ya jadi tidak mau berjalan,” canda Sabina.

“Iya aku hanya sedikit lelah,” jawab Arfan sambil tersenyum.

“Kamu harus semangat ya untuk sembuh. Selama kita masih bernafas maka kita diberikan kesempatan untuk sembuh,” Sabina menyemangati Arfan.

Arfan mengangguk dan berkata dalam hati, “Iya aku pasti sembuh. Salah satu alasan aku bertahan sampai saat ini adalah kamu Sabina.”

“Oya. Hari ini aku sudah boleh pulang. Sebulan lagi aku wisuda. Kamu datang ya di acara wisudaku. Aku ingin sekali kamu datang. Semoga hari itu kamu sudah sembuh,” tambah Sabina.

Sebulan kemudian, acara wisuda tiba. Arfan tidak terlihat, Sabina pun memutuskan pulang setelah menunggu lama. Ketika Sabina menuruni tangga gedung, Arfan yang sudah membaik datang dengan setelan baju batik sambil membawa buket bunga.

“Selamat ya atas kelulusanmu. Maaf aku baru datang. Aku terlalu lama mempersiapkan diri,” ucap Arfan.

“Iya tidak apa-apa. Terima kasih kamu sudah menyempatkan diri untuk datang. Kamu mempersiapkan diri untuk apa?” tanya Sabina.

“Aku mau jujur. Sebenarnya aku menyimpan kagum kepadamu sejak awal kita bertemu dan itu berlanjut hingga saat ini. Tapi dengan keadaanku seperti ini aku tidak mungkin bisa melamarmu dan mungkin kamu tidak bisa menerimaku,” ungkap Arfan.

“Kenapa seperti itu? Bagaimana kamu tahu jawabannya tanpa kamu mencobanya. Kamu tahu kenapa aku mengundangmu datang hari ini karena kamu spesial bagiku. Sebenernya aku tahu keadaan kamu tapi itu tidak masalah bagiku,” jujur Sabina.

Beberapa bulan setelah mereka saling menyatakan perasaan, merekapun menikah. Mereka saling menerima kelemahan. Dengan kelemahan itulah mereka saling menguatkan.

Tapi setahun setelah kebahagiaan itu terbingkai, kanker usus yang diderita Arfan ternyata menjalar ke paru-paru. Seminggu Arfan dirawat tapi belum ada kemajuan. Sabina pasrah dengan keadaan itu, tidak ada yang bisa ia lakukan selain berdoa. Setelah dua minggu dirawat, Arfan pun sadar. Ia meminta kepada Sabina untuk mengantarnya jalan-jalan ke taman. Dengan izin dokter akhirnya Sabina membawanya ke taman dengan selang infus tetap menempel ditangannya.

Sabina membantu Arfan berpindah dari kursi roda ke kursi taman. Mereka saling mengenang awal pertemuan mereka di taman itu. Arfan menyandarkan kepalanya di pundak Sabina. Ia merasa lebih tenang berada dekat dengan Sabina.

“Sabina, maafkan aku yang belum bisa seutuhnya membahagiakanmu dan terima kasih atas segalanya. Semoga kita bahagia sampai ke surga. Aku akan selalu mencintaimu istriku,” ucap Arfan.

“Iya Arfan. Aku juga akan selalu mencintaimu suamiku,” balas Sabina.

Hembusan nafas Arfan tidak terdengar lagi. Arfan meninggal dalam pelukan Sabina, Sabina pun sangat terpukul dan air matanya terus mengalir. Ia tidak menyangka itu akhir dari pertemuan mereka. Dan taman itu menjadi tempat awal dan akhir mereka bertemu. Sabina berharap mereka bisa dipertemukan di surga nanti.JUDI DOMINO

Leave a Comment