Curhat Seorang Wanita Yang Dihamili Tukang Ojek

Satukliknews – Bibit asmara yang sudah bersemi di hati Lodra dan Bunga. Lodra sering mengajak Bunga jalan-jalan sebelum mengantarnya pulang. Paling sering, Lodra yang mengajak Bunga ke kebun teh. Di bawah rerimbun pohon teh, mereka leluasa melakukan apa saja.DOMINO ONLINE

Badai pun tiba-tiba datang. Bunga hamil satu bulan. Bermula ketika pihak Badan Narkotika dan dokter dari puskesmas melakukan tes urine pada semua siswa SMP di sana. Bunga bebas dari narkotika, tetapi ada temuan lain: Bunga hamil. Pihak sekolah tegas menegakkan aturan: Bunga dikeluarkan dari sekolah.

Kosali, ayah Bunga, meradang. Begitu pula warga yang ada di Dusun Utara. Semua tahu, hampir separuh warga Dusun Utara masih ada hubungan keluarga dengan Kosali dan Bunga. Para pemuda Dusun Utara menggeruduk rumah Lodra, mendesaknya untuk menikahi Bunga. Meski mereka tahu Lodra sudah punya istri dan anak balita. Tetapi mereka tak peduli.

BACA JUGA : ini manfaat daun mint untuk kesehatan kulit

Lodra siap bertanggung jawab, tetapi tidak bagi Kinasih, istrinya.

“Berani kau menikah lagi? Bersiaplah untuk menggali liang kubur!” ancam Kinasih.

Para pemuda yang ada di Dusun Utara geram, merusak beberapa rumah warga Dusun Selatan. Mereka juga memblokade semua jalan akses, sehingga warga Dusun Selatan tak bisa ke mana-mana, terisolir. Beberapa petugas keamanan berdatangan mengamankan keadaan.

Para pemuda Dusun Utara ini juga menyingkir, tetapi mereka tak kehabisan akal. Mereka menyebar ke mana-mana. Bila melihat warga Dusun Selatan berada di suatu tempat, di pasar misalnya, pemuda Dusun Utara akan menghajarnya. Lama-lama, warga Dusun Selatan takut untuk keluar dari daerah mereka. Anak-anak sekolah, para pegawai, buruh pabrik dari Dusun Selatan terpaksa membolos.

Para sesepuh dan tokoh masyarakat kedua dusun berembung di balai desa. Kumara sebagai Kepala Dusun Selatan datang mewakili warga. Lodra dan Bunga hadir pula di sana.

Sepanjang pertemuan itu, Bunga terus menunduk dengan mata dan pipi basah. Bunga menyatakan bersedia menjadi istri kedua Lodra. Dan, berkali-kali pula Lodra menyatakan siap menikahi Bunga.

Di luar balai desa ini sudah terdengar riuh. Kinasih datang menggendong anak balitanya, membawa parang pula dan berteriak-teriak.

“Heh, Lodra, Bunga! Keluar kalian! Biarkan parang ini bicara!”

Beberapa petugas keamanan ini juga langsung sigap menyergap Kinasih, membawanya ke markas, mengamankannya di sana. Rembugan di balai desa menghasilkan keputusan: Bunga harus menikah dengan Lodra atau dengan lelaki manapun.

Kumara telah memohon pada para pemuda, para duda dan siapapun lelaki di Dusun Selatan untuk bersedia menikahi Bunga. Begitu pula Rotama, Kepala Dusun Utara telah melakukan hal yang sama pada para pemuda, para duda, dan siapapun lelaki di sana. Hasilnya nihil. Para pemuda, para duda, dan para lelaki di kedua dusun itu menolak menikahi Bunga.

***

Kumara duduk termenung di ruang tengah. Sudah tengah malam. Nilam, istrinya, keluar dari kamar, lalu perlahan duduk di sisi Kumara. Nilam yang menggenggam tangan Kumara dan tersenyum.

“Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, Pak,” kata Nilam, lembut.

“Tetapi tidak untuk masalah ini,” sahut Kumara.

“Aku punya jalan keluarnya, Pak. Jalan terakhir.”

Kumara tertegun.

“Bagaimana jalan keluarnya?”

Nilam menyampaikan jalan keluar itu. Mereka bicara dari hati ke hati. Di akhir pembicaraan, air mata Nilam menderas, begitu pula Kumara. Mereka berpelukan dalam kerelaan.

***

Ternyata, sulit menemukan kiai yang bersedia menikahkan wanita yang sedang hamil. Suatu hari, Kumara mendengar kabar ada seorang kiai di puncak sebuah gunung yang mau menikahkan siri meski dalam kondisi apapun si mempelai perempuan. Bersama Rotama, Kumara segera menemui kiai tersebut dan membuat kesepakatan hari.

Pada hari yang telah ditentukan, Kumara membawa Bunga dan kedua orangtuanya serta beberapa orang dari Dusun Selatan dan Dusun Utara ke rumah sang kiai. Hari itu Kumara menikahi Bunga, tanpa ramai-ramai, tanpa resepsi.

***

Tengah malam. Kumara ini juga memasuki kamar. Di ranjang, tampak Bunga tidur telentang; kakinya panjang dan mulus, dada menggumpal, perutnya menyembul. Kumara menatap iba pada perempuan itu. Kumara menyelimuti Bunga. Kumara mengambil satu selimut lagi dari lemari pakaian, menggelarnya di lantai dekat ranjang, meletakkan bantal, lalu membaringkan tubuhnya.

Pada malam yang sama, di kampung lain, Nilam ini juga membuka pintu kamar anak sulungnya yang berusia 12 tahun, yang tampak terlelap dalam pelukan nenek. Nilam tersenyum. Kemudian ia masuk ke kamar lain. Di sana tampak Citra, anak bungsunya yang berusia 6 tahun, berbaring miring di ranjang, menghadap dinding.

Perlahan, Nilam ini langsung merebahkan diri di samping Citra.  Tubuh Citra bergerak, lalu membalikkan badan. Mata gadis kecil itu terbuka.

“Mengapa bangun, sayang?” ucap Nilam, lembut dan tersenyum.

“Ibu,” kata Citra. “Mengapa kita meninggalkan ayah? Apa ayah telah berbuat jahat pada kita?”

“Tidak, sayang,” ucap Nilam. “Ibu dan ayah sudah membuat kesepakatan. Kita pindah ke rumah nenek, ayah tetap tinggal di sana. Ayah hanya menjalankan tugas negara. Ayah masih sayang ibu. Ayah orang baik, Nak.”JUDI DOMINO

***SELESAI***

Leave a Comment