Kisah Aneh..!!! Arwah Mengunjungi Buah Hatinya

Satukliknews – Selama ini kita hanya mengenal istilah hanya “melihat hantu” atau “melihat setan”, “melihat makhluk halus”, dan sebangsanya.  Saya sendiri, dalam sejarah, belum pernah melihat makhluk tak kasat di mata itu sekalipun. Dan semoga tidak pernah bertemu, kapan atau di mana pun jua. Bukan apa-apa, saya ini penakut. Bilang saja saya pengecut atau banci–gak mazalah–tetapi mohon jangan pernah dipertemukan dengan makhluk-makhluk gaib tersebut.DOMINO ONLINE

Nyali yang saya hanya berkutat di kisaran mendengar cerita tentang makhluk-makhluk halus tersebut. Saya memang suka mendengar atau nguping orang-orang bercerita seputar kejadiaan-kejadian mistis yang dialami mereka, meskipun malamnya, kalau sendirian di rumah, saya menjadi terbayang-bayang, dan ketakutan sendiri.

Bila ada orang lain sudah melihat hantu, maka saya pernah mendengar hantu. Bagaimana rasanya? Kalau penasaran, silakan terus membaca sambil menahan napas. Ini kejadian beberapa tahun silam.

Suatu pagi yang agak mendung, saat mengikuti kuliah di kampus Depok, seorang dosen memasuki ruangan dan mengisyaratkan saya untuk keluar sebentar. Lalu dia memberitahu bahwa kakak saya yang berdomisili di Tangerang, meninggal dunia. Beberapa waktu sebelumnya seorang keluarga menelepon ke kantor dosen. Harap maklum, ketika itu masih zaman baheula. Yang namanya handphone, internet, SMS, Facebook, Twitter, WhatsApp, dan lain-lain, belum dikenal. Komunikasi jarak jauh hanya dengan pesawat telepon atau telegram. Telepon umum yang menggunakan koin cepek-an sangat populer pada masa itu.

Bisa dibayangkan loh betapa pentingnya uang logam seratusan pada masa itu. Saya sendiri turut mengalaminya. Maka apabila saat ini ada orang yang tidak menghargai uang logam cepek, saya mengecam dan mengutuknya dalam hati. Bila saya melihat  uang koin tergeletak di jalan, tiada malu atau gengsi untuk memungutnya. Di rumah saya masukkan ke sebuah kotak khusus koin. Hal itu, selain dalam rangka menghormati jasa-jasa para uang koin itu di masa silam, saya punya hitungan: Kalau nanti jumlah koinnya sudah mencapai 1 juta biji, itu kan sama dengan Rp 100 juta! Bisa beli mobil Avanza second. Hihihihihih…

BACA JUGA : laki-laki bahagia jika menikah dengan perempuan yang seperti ini

Fokus ke hantu!

Kakak saya meninggal dalam usia yang masih muda belia, sekitar 29 tahun. Dia korban pembunuh berdarah dingin: penyakit jantung. Kakak saya yang cantik itu meninggalkan seorang suami dan dua anak kecil masing-masing berusia 4 dan 2 tahun. Tuhan mahatega! Umpat batin saya ketika itu. Dalam kesedihan yang sangat mencekam waktu itu, masih sempat-sempatnya saya mencoret-coret kalimat sila pertama dalam gambar Pancasila yang tertempel di tembok kamar dan mengubah kata-kata menjadi: Ketuhanan yang Mahatega!

Singkat dari semua cerita, beberapa hari setelah kakak saya dimakamkan, saya mengunjungi kedua keponakan saya itu. Yang ada di rumah pagi itu hanya pembantu rumah tangga (PRT) yang sedang memasak di dapur. Ipar saya, suami almarhumah kakak, sudah berangkat kerja. Sementara kedua keponakan saya, tidur di lantai atas. Rumah mereka waktu itu KPR type kecil. Maka ditambah ruangan di atas berlantai papan, untuk kamar tidur.

Hampir sudah tumpah air mata saya ketika melihat kedua bocah imut-imut itu sedang tertidur pulas. Mereka belum sepenuhnya mengerti bahwa mereka sudah ditinggal pergi untuk selamanya oleh ibunda yang sangat mengasihi mereka. Dulu, waktu mama mereka masih ada, biasanya saya langsung mengajak kedua keponakan saya itu untuk bercanda dan bercengkerama.

Dengan langkah-langkah yang pelan, supaya mereka tidak terbangun, saya turun ke bawah, dan menonton televisi. Beberapa saat kemudian, saya mendengar bunyi seperti langkah kaki di lantai atas. Jelas sekali seperti suara langkah kaki seorang dewasa berjalan-jalan di lantai atas. Saya mengecilkan volume suara televisi. Dan suara langkah kaki itu masih terdengar dengan sangat jelas. Antara kaget ketakutan bingung dan sedih, dengan tubuh gemetaran saya mengendap-endap menaiki tangga kayu menuju atas, dan ketika tiba di atas…. sepi! Bunyi langkah kaki tidak terdengar lagi. Hening. Tidak ada siapa pun di sana, kecuali kedua keponakan saya yang tetap tidur pulas.

Saya menghela napas, sedih dan gentar, turun kembali ke bawah. Naluri saya berkata, arwah kakak saya sedang datang untuk mengunjungi anak-anak yang sangat dia sayangi itu.

Nah, bunyi seperti itu kedengaran lagi, bahkan kini lebih keras. Sementara itu, PRT yang sedang bekerja di dapur berkali mengucapkan: Husssss!!! Huss!!! Seperti mengusir sesuatu, dia sambil melihat ke atas. Agaknya dia pun sudah sering mendengar bunyi-bunyi itu kalau suasana rumah sedang sepi.

Saya diam saja, seolah tidak tahu. Namun ketika bunyi langkah kaki kembali terdengar dan makin kencang, saya  kembali melangkah mengendap-endap menaiki tangga dan mengintip. Sama saja, tidak ada siapa-siapa, bahkan saya sudah memeriksa setiap sudut. Kedua keponakan saya masih pulas dibuai mimpi. Mungkin mimpi indah sedang dibelai-belai ibu mereka.

Akhirnya, sambil berurai air mata, saya berdoa kepada Tuhan, supaya almarhumah kakakku diterima di sisi-Nya, dan mohon perlindungan bagi kedua anaknya yang masih kecil itu. Selesai berdoa, saya turun kembali ke bawah, dan sejak itu tidak pernah lagi terdengar lagi orang melangkah di lantai atas. JUDI DOMINO

Leave a Comment