Puisi Cinta Untuk Orang Yang Disayang Aira

Satukliknews – Aku tidak pernah akan memunggungimu, mataku akan tetap menatap lurus.

Betapapun debu jalanan, jilatan badai mangaburkan pandangan.

Aku akan tetap memandangi langkah-langkah mungilmu …, sampai sebuah tikungan menyembunyikanmu,

atau …,

kebutaan menyambangiku ….

“Tuhan–”

“Hufh!”

Gilang mendengus. Seakan ingin melepaskan segala beban batin yang berhari-hari begitu memberatinya. Nyaris, membuatnya kehilangan semangat hidup.DOMINO ONLINE

Kejadian-Kejadian pahit yang tejadi beberapa pekan lalu masih menyisakan sayatan luka yang amat dalam. Saat sebuah tragedi membuatnya harus melihat dua hati hancur. Dua hati dari wanita-wanita yang sangat dicintainya. Wanita-Wanita yang sama-sama memiliki arti penting dalam hidupnya. Saat itu, Gilang benar-benar ada di titik nadir. Melihat kedua hati wanita itu hancur, hatinya lebih hancur lagi.

Sempat tragedi cinta itu memaksanya berada dalam dilema. Ya, dilema pelik saat tiba-tiba harus dihadapkan pada sebuah pilihan antara menjaga kedamaian atau memperjuangkan cintanya. Antara meneruskan perjalanan menggapai mimpi dengan Aira, atau membiarkannya lepas dengan sepenggal napas. Sebelum akhirnya keyakinannya bahwa cinta yang ada di hatinya adalah titipan Tuhan dan layak diperjuangkan, memantapkan hatinya untuk bangkit dan berjuang. Gilang pun sempat menanamkan keyakinan pada Aira. Gadis bersahaja yang sangat mencintai Gilang lebih dari mencintai diri sendiri.

“Ini bukan akhir dari perjalanan cinta kita, Say. Tapi adalah awal dari sebuah takdir indah yang sama kita inginkan,” bisik Gilang sambil menggenggam jemari Aira.

Itu adalah senja terakhir saat Gilang dan Aira bertemu. Senja terakhir yang nyatanya melemparkan keduanya pada kemalangan.

“Iya, kak. Aira percaya sama kak Gilang. Jangan khawatir, Aira akan menjaga dan merawat cinta kita. Kakak tenanglah, segalanya akan baik-baik saja,” bisik Aira kala itu sambil menahan isak. Hatinya begitu terluka, tapi demi lelaki yang sangat dicintainya dia berusaha tegar.

“Tuhan, kenapa kenangan pahit itu selalu menghantuiku. Padahal engkau telah merampas segalanya?”

Gilang bergumam lirih. Wajahnya kuyu. Selama beberapa pekan air mata menjadi begitu akrab di wajah senjanya. Duka kepedihan sebab siksa cinta sangat jelas tergurat di wajahnya yang biasanya selalu ceria. Tampak jelas, sangat jelas pada guratan wajahnya, betapapun Gilang berusaha keras menyembunyikan di balik sikap konyol yang menjadi terkesan dipaksakan. Senyatanya memang dipaksakan, tidak natural lagi seperti sebelumnya.

***

Beberapa hari sebelumnya.

“Kak …, bolehkah aku membahagiakan orang tuaku? bolehkah aku memberikan pengabdianku di sisa umurku ini pada kedua orang tuaku?” tanya Aira tiba-tiba di suatu sore.

“Tentu, tentu saja boleh. Bagaimana bisa aku melarang seorang anak dalam kebaktiannya,” sahut Gilang lirih.

Tapi entah kenapa tiba-tiba ada perasaan nyeri yang menelusup halus pada hatinya. Perasaan aneh entah apa.

“Kakak ikhlas ‘kan, dengan apapun yang akan aku lakukan?”

Deg!

Jantung Gilang tiba-tiba berdetak keras. Ada pukulan kasat mata yang membentur dadanya.

“Iya, insyaallah aku akan ikhlas. Tapi tolong katakan ada apa?” Gilang menyahuti dengan suara yang mulai bergetar. Ada keresahan, ada ketakutan yang dicoba untuk diendapkan.

“Kak–”

Aira tak kuasa melanjutkan kata-katanya. Lidahnya mendadak kelu, bibirnya bergetar menahan kepedihan hati. Lalu, air matanya tumpah tanpa bisa ditahan lagi. Untuk beberapa saat, Aira hanya bisa terisak hingga tubuhnya bergoncang.

“Ada apa, Say? katakanlah!”

tanya Gilang dijawab Aira dengan isakan yang semakin menyayat. Hingga hati Gilang begitu tersentuh dan karenanya tangis pun pecah.

Beberapa saat berlalu sepasang kekasih itu larut dalam tangis. Ikatan batin yang sangat kuat menjadikan mereka bisa saling merasakan isi hati masing-masing kendatipun tanpa diucapkan.

BACA JUGA : Unik..!! wanita wajib menangis sebulan sebelum menikah

Setelah beberapa saat saling berbagi air mata. Setelah beberapa saat keduanya larut dalam gelombang duka; terisak, merintih, lalu diam. Mencoba saling mengeja lembaran perjalanan dari awal perjumpaan hingga mereka berada pada titik kehancuran saat ini. Perlahan, Aira mengangkat wajahnya sembari menyeka air mata yang terus saja bercucuran.

“Kak, aku telah menuruti kemauan Umi untuk menerima pinangan seseorang yang diinginkannya,” desah Aira lirih.

“Pinangan? Secepat ini?” sahut Gilang sepontan sebelum akhirnya terdiam. Hanya air matanya yang mendadak membanjiri pipi layaknya bah.

“Kak …, maafin Aira,” desah Aira lirih, “maafin karena mungkin keputusan Aira kali ini akan melukaimu, akan membuatmu kecewa. Demi Tuhan,  Aira tidak bermaksud begitu. Semua Aira lakukan demi orang-orang yang Aira cintai dalam hidup ini. Demi kebahagiaan Umi yang telah melahirkanku. Demi menjaga kebahagiaan kak Gilang dan keluarga. Aira akan lakukan apapun asal kalian bahagia, meskipun harus terjun ke dalam kobaran api. Akan Aira lakukan. Aira sangat mencintaimu, Kak. Sangat mencintaimu …,”

Tangis Aira kembali pecah. Kali ini lebih menyayat hati.

“Allah …,”

“Hemmh …,” desah Gilang sesak.

“Apakah itu berarti engkau akan pergi dari hidupku?”

“Tidak! Aira tidak akan pergi. Bahkan Aira mengemis padamu, Kak. Apapun takdirku nanti. Apapun keputusanku nanti. Tolong! jangan lepaskan Aira dari kasih sayang kalian. Aira tidak bisa, tidak bisa,” rintih Aira.

“Aku hanya tak mengerti, kenapa begitu mendadak. Bahkan, setelah kita sama sepakat pada sebuah keyakinan bahwa apapun yang terjadi adalah awal untuk sebuah takdir indah yang kita impikan. Apa kejadian kemarin membuatmu begitu terluka?” cecar Gilang.

“Tidak, tidak Kak! bukankah sudah aku katakan, aku mencintaimu karena cinta itu sendiri. Dengan membutakan mata, menulikan telinga. Bagaimana bisa ada sakit hati,” jawab Aira lirih.

“Lalu kenapa mendadak?”

“Entahlah, Tuhan begitu runut mengatur setiap kejadian. Hingga Aira tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah pada kemauan Umi,”JUDI DOMINO

“Ya sudah!”

Leave a Comment