oleh

Sidang Dugaan Suap Dana Hibah, Menpora Jadi Saksi

-News-1.452 views

Satukliknews.com – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi akan jadi saksi persidangan dugaan suap dana hibah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) kepada Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) oleh Sekretaris Jenderal KONI, Ending Fuad Hamidy dan bendahara dari KONI Jhonny Awuy.

Pengacara Ending Fuad, Arief Sulaiman membenarkan hal ini. QQOnline

Selain Imam sebagai Menpora, Arief mengatakan ada tiga saksi lain yang akan memberikan kesaksian kepada Terdakwa Ending.

“Tiga orang diduga sebagai Kemenpora, dan Menpora,” kata Arief melalui pesan singkat, Senin (29/4/2019).

Tiga saksi yang dimaksud adalah pejabat dari komitmen Kementerian Pemuda dan Olahraga, Adhi Purnomo, Staf Kemenpora Eko Triyanto, dan Deputi IV Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora Mulyana.

Sidang hari ini dijadwalkan untuk sidang terakhir untuk mendengarkan kesaksian dari para saksi. Setelah sesi agenda mendengarkan kesaksian terdakwa, diikuti dengan pembacaan tuntutan jaksa, membaca pledoi atau nota pembelaan, terakhir pembacaan putusan oleh majelis hakim.

Dalam hal ini, nama Menpora sering disebut sebagai penerima hadiah atau komitmen dalam bentuk Rp. 1,5 miliar. Hal ini dinyatakan dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Sekretaris Perencanaan dan Anggaran KONI Suradi yang dibacakan oleh jaksa penuntut KPK dalam persidangan Terdakwa Ending. QQOnline

Bukti Catatan KPK

Dalam BAP yang dibacakan Jaksa KPK Titto Jaelani, Suradi mengatakan pada hari Kamis, 13 Desember 2018 Ending Fuad Hamidy mengarahkan pembuatan kegiatan pembiayaan alternatif di KONI sebesar Rp. 17,9 miliar.

“Pada saat itu Fuad Hamidy meminta saya untuk mengatur sejumlah kegiatan alternatif sehingga biaya maksimum dihabiskan oleh KONI Rp. 8 miliar dari total Rp. 17,9 miliar karena Fuad Hamidy memiliki kebutuhan untuk memberikan uang kepada Kemenpora seperti Menpora , Ulum, Mulyana dan beberapa pejabat lainnya. ” , Benarkah? “Tanya Jaksa Titto.

“Itu benar, ketika Sekretaris Jenderal mengatakan” uangnya tidak cukup, tolong dibuat Rp5 miliar karena ternyata kebutuhan seperti ini adalah sekitar Rp3 miliar seperti yang tercantum “, kemudian menambahkan Rp5,5 miliar menjadi sekitar Rp8 miliar , “kata Suradi.

Mendengar jawaban Suradi, Jaksa Penuntut KPK menunjukkan bukti dalam bentuk catatan tentang distribusi uang yang dilakukan Suradi. Dalam catatan itu, ada 23 inisial lengkap dengan nilai uang yang akan diberikan. Kepada Suradi, jaksa penuntut KPK membenarkan siapa mereka disebutkan dalam inisial.

“Bukti, inisial M apa maksudnya?” Jaksa Penuntut KPK bertanya lagi.

“Mungkin untuk menteri. Saya tidak bertanya kepada Sekretaris Jenderal, dengan asumsi saya itu adalah Menteri,” kata Suradi.

Selain inisial M, ada juga inisial UL. Menurut Suradi itu adalah inisial staf Menpora Miftahul Ulum. Menurut Suradi, Ulum menerima jatah Rp. 500 juta, sedangkan M, yang ia tafsirkan sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga dalam daftar, menerima Rp. 1,5 miliar. QQOnline

“Jadi Rp. 2 miliar ditambahkan dari Rp. 1,5 miliar dan Rp. 500 juta,” kata Suradi.

Menurut Suradi, total yang akan diberikan kepada 23 inisial adalah Rp. 3,43 miliar. Meskipun ia membuat daftar penerima biaya, Suradi tidak tahu apakah uang itu diberikan atau tidak. Termasuk biaya yang dia tafsirkan untuk Menpora, Imam Nahrawi.

“Jika diberikan, saya belum menerimanya, yang lain saya tidak tahu,” kata Suradi.

AGEN BOLA, AGEN CASINO, AGEN TOGEL, BANDAR TOGEL, BANDAR BOLA

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed