oleh

Heboh Muncul Kerajaan Dadakan, Narsis Berujung Pidana

Satukliknews.com – Kemunculan sejumlah kerajaan baru di daerah mengejutkan publik. Muncul beberapa kali dan bukan hal baru, fenomena ini dianggap punya klaim sebagai gerakan perubahan.

Peneliti dari Institute Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi menjelaskan kerajaan dadakan yang marak saat ini masih dipersepsikan soal harapan dan ketidakpuasan dari kelompok tersebut. Maka itu, penampilan mereka diselingi dengan sikap narsis untuk menarik perhatian.

“Ini bukan barang baru dan selalu hadir di bawah permukaan. Jika kemudian nongol, itu soal hope dan deprivasi relatif,” kata Khairul Fahmi, Selasa 21 Januari 2020.

Dia menjelaskan selama tak ada indikasi pelanggaran kriminal maka gerakan kerajaan dadakan ini sebenarnya tak ada masalah. Namun, aksi yang disertai dugaan penipuan dan penyesatan ajaran agama berujung ada penindakan hukum.

Dengan kekeliruan penyesatan itu, kelompok ini dinilai menjadi sumber lelucon di media sosial.

“Justru hal itulah yang harus diperhatikan. Karena bully-ing dan alienasi berpotensi memicu tragedi,” jelasnya.

 

Baca Juga : Sekarang Bilang Menyesal, ‘Raja’ Toto: Keraton Agung Sejagat Fiktif!

 

Fahmi menambahkan, dalam sejarahnya gerakan-gerakan macam ini banyak berakhir tragis karena penegakan hukum dan self-destruction. Penindakan hukum sudah dilakukan terhadap pimpinan Keraton Agung Sejagat, Lia Eden, Kerajaan Ubur-Ubur, sampai Gafatar.

Semua gerakan kerajaan itu membuat geger publik. Namun, pimpinannya mesti berurusan dengan hukum.

Kata dia, terkait kondisi saat ini, fenomena kerajaan dadakan bisa saja pengalih perhatian. Namun, tidak semuanya dibuat-buat.

“Tapi, bukan berarti ini fenomena yang diada-adakan. Kelompoknya jelas ada, tapi keriuhannya yang bisa jadi tak sepenuhnya alamiah,” tutur Fahmi.

Dia mengingatkan lagi bahwa fenomena ini bukan hal baru karena dalam beberapa tahun terakhir sudah ada. Mulai hebohnya Lia Eden, Kerajaan Ubur-ubur, sampai Gafatar.

Fahmi menganalisis kerajaan tersebut termasuk seperti Keraton Agung Sejagat punya ideologi atau keyakinan ekstrem. Memiliki pimpinan atau guru yang karismatik yang dipuja sedemikian rupa secara hirarkis oleh para pengikutnya.

“Mengklaim diri sebagai gerakan perubahan yang punya jawaban atas masalah-masalah. Gerakan-gerakan ini menggunakan mitos, doktrin dan klaim spiritual. tak jarang juga melalui intimidasi baik psikis, politis maupun ekonomi,” jelasnya.

 

Sumber : vivanews

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed